“Ingat! Incaran kita kali ini sangat berbahaya, kita harus waspada, tunggu aba-aba dariku, lalu kita serbu sesuai taktik yang telah dijelaskan. Mengerti?!” “Siap!” Teriak seluruh pasukan dengan mantap. Sesuai dengan intruksi lantang dari Komandan Frank yang hampir memecahkan gendang telinga tadi, kami pun bersiap di posisi masing-masing. Begitu pun aku, telungkup diam sambil terus membidik sasaran dari radius 176 meter diatas gedung sebelah timur laut, persis seperti payung hitam yang hanya akan dipakai saat ada upacara kematian. Aku sudah terbiasa melakukan ini seumur hidupku. Kulihat keadaan dibawah sana agak kacau, aku tersenyum kecut mengetahui apa yang akan terjadi.“Sniper! Tembak!” Suara memekakkan itu membahana di telingaku melalui earphone . “Roger!” balasku lantang. Aku semakin memfokuskan bola mataku menuju satu titik merah yang kulihat, kuarahkan moncong bulat M82 Barret dengan sangat teliti, yah, ini dia! Kutarik ...