Langsung ke konten utama

PELURU PERAK

“Ingat! Incaran kita kali ini sangat berbahaya, kita harus waspada, tunggu aba-aba dariku, lalu kita serbu sesuai taktik yang telah dijelaskan. Mengerti?!”
“Siap!” Teriak seluruh pasukan dengan mantap. Sesuai dengan intruksi lantang dari Komandan Frank yang hampir memecahkan gendang telinga tadi, kami pun bersiap di posisi masing-masing. Begitu pun aku, telungkup diam sambil terus membidik sasaran dari radius 176 meter diatas gedung sebelah timur laut, persis seperti payung hitam yang hanya akan dipakai saat ada upacara kematian. Aku sudah terbiasa melakukan ini seumur hidupku.
            Kulihat keadaan dibawah sana agak kacau, aku tersenyum kecut mengetahui apa yang akan terjadi.“Sniper! Tembak!” Suara memekakkan itu membahana di telingaku melalui earphone.
“Roger!” balasku lantang. Aku semakin memfokuskan bola mataku menuju satu titik merah yang kulihat, kuarahkan moncong bulat M82 Barret dengan sangat teliti, yah, ini dia! Kutarik pelatuknya. Suara ledakan bubuk mesiu yang diikuti teriakan histeris menjadi makananku dalam setiap misi, dan bayaran tertinggiku adalah kepuasan.
            “Kerja bagus!” Pujian itu membayangiku sampai aku menapakkan kaki di apartemen yang sudah kusewa sejak dua tahun yang lalu. Aku duduk bersandar di sofa kemudian menghela nafas, kutenggok jam dinding digital diatas televisi, pukul tiga sore. Sesaat aku tersenyum mengingat sampah masyarakat yang tadi kutembak. Aku beranjak, membersihkan diri lalu meminum cola dingin yang cocok di musim panas seperti ini. Kurebahkan diriku di kasur, memandangi Falcon OP 99, senapan Bolt Action berkaliber 12,7 x 108 mm yang tersandar dengan kokoh di dinding dan merupakan satu satunya temanku, paling setia menunggu saat yang tepat bersamaku.
            Alarm berbunyi keras sekali, sambil mengucek mata kulihat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Tak terasa aku sudah tidur selama lima jam. Setengah jam kemudian aku sudah melesat di jalanan bersama motor sport berwarna hitam yang masih mengkilap. Kaos oblong abu-abu dibalut jaket hitam, celana jeans biru tua dan helm full face hitam yang menutupi wajah membuatku lebih terlihat seperti kriminal yang keluyuran di malam hari daripada seorang penembak jitu kepolisian. Kuhentikan motorku di sebuah parkiran kafe.
            “Wah, kau datang rupanya, Ren! Hm, kau tetap saja terkesan dingin meski mengenakan pakaian santai seperti itu.” Sapa Erick, pemilik kafe yang baru saja kumasuki.
“Dan kau tetap saja berisik. Aku mau nasi omelet dan es Americano." Seruku tanpa ekspresi. Erick hanya tertawa kecil sambil mencatat pesananku.
“Ren, apa sudah ada perkembangan tentang kabar mereka?” Tanya Erick begitu dia mendaratkan pantatnya di kursi yang berhadapan denganku.
“Ada. Kau tahu kalau aku terus menyelidiki sepak terjang mereka, kan. Kenapa?” Jawabku sambil melihat pesan-pesan masuk di ponsel.
“Tidak, hanya saja, kenapa tidak kau lupakan saja dendam itu? Nikmati masa mudamu seperti kami.”
Aku mengangkat wajahku, “sudahlah, aku bosan dengan pertanyaan itu. Aku bukan pengecut seperti kalian yang diam saja. Seekor elang akan terus mengawasi mangsanya dari udara hingga mangsanya lengah, menunggu saat yang tepat untuk beraksi.”
“Tapi apa pun yang kau lakukan takkan membuat keluargamu hidup kembali kan?” Erick masih memburuku dengan pertanyaan yang menyebalkan.
“Jelas, aku memang tidak ingin mereka kembali. Aku hanya ingin menutup lukaku. Kau sendiri juga kehilangan keluargamu kan? Kalau kau terus diam, berarti kau memang lemah.”
“Baiklah, terserah saja. Aku sudah memperingatkanmu, Ren. Kau mungkin tidak bisa mengerti saat ini, tapi yang jelas aku dan Viona tidak lemah.”
“Kau pasti paham, kan, kalau menasehatiku itu hal yang paling tak berguna.”
Erick hanya menggeleng sedih kemudian beranjak untuk membiarkanku menikmati santapan yang sudah terhidang.
            Satu bulan berlalu sejak malam di kafe itu. Hari yang paling kutunggu seumur hidupku akhirnya tiba. Selama ini aku terus mengawasi sepak terjang organisasi penjahat terkeji di bawah pimpinan Marco van Eden. Dua hari yang lalu aku mendapat kabar dari relasiku bahwa mereka kembali ke negeri ini setelah beberapa tahun belakangan ini mereka selalu menyembunyikan diri dan melakukan aksinya di luar negeri. Aku memastikan keberadaan mereka, kemudian kuusulkan sebuah penyerbuan dadakan. Komandan Frank menyetujui rencanaku dan kami sepakat bahwa penyerbuan dilakukan hari ini.

Dua belas tahun yang lalu.

            Saat itu Aku, Erick dan Viona baru pulang sekolah. Kami memang selalu bertiga dan sudah bersahabat sejak kecil. Setibanya di komplek tempat tinggal kami, ada kerumunan di sekitar rumah Erick, ada banyak polisi juga. Kami pun punya firasat buruk dan berlari mendekati kerumunan tersebut. Aku baru ingat, beberapa warga komplek sedang menyiapkan pesta Barbeque di pekarangan rumah Erick yang sangat luas, termasuk keluarga kami. Kemudian kami berhasil menerobos kerumunan dan terkejut melihat apa yang terjadi. Tangan dan kaki para warga diikat, mata dan mulut ditutup kain, ada belasan yang disandera. Lalu ada enam orang mengenakan pakaian serba hitam, penutup wajah, rompi anti peluru dengan senjata api di tangan mereka. Melihat apa yang terjadi, aku segera menarik Erick dan Viona yang mulai histeris menuju rumah pohon di halaman belakang rumah Viona. Pohon itu cukup tinggi sehingga kami bisa melihat tempat kejadian dengan aman dari sana. Mendengar apa yang terjadi, sepertinya para penjahat itu meminta uang tebusan dari pemerintah dan sandera akan dibunuh jika menolak. Sialan! Kejahatan klasik yang cukup sulit diatasi. Kami terus menunggu dan berdoa agar keluarga kami bisa dibebaskan. Tak lama kemudian, kepala polisi datang dan menyerahkan koper berisi uang banyak. Kami lega karenanya. Keenam orang penjahat itu pun pergi membawa koper tersebut dan meninggalkan sandera. Tak berselang lama, kami terkejut oleh suara tembakan beruntun. Viona dan Erick menjerit sambil berupaya turun untuk menghampiri tempat kejadian, lagi-lagi kuhentikan mereka. Seseorang menembaki semua tawanan dari jauh, pekarangan rumah Erick kini penuh darah dari keluarga kami yang tak berdosa. Perasaanku sendiri sudah kacau, tapi kucoba sekuat tenaga untuk berpikir jernih. Aku memperhatikan arah tembakan dan melihat kilatan cahaya, itu penembaknya! Spontan aku turun dari pohon dan berlari menuju kilatan cahaya yang kulihat. Saat aku tiba, penembak itu melesat pergi. Brengsek! Aku hanya sempat melihat senapannya, yang kemudian terpahat dalam ingatanku.
            Kami bertiga pun yatim piatu. Trauma dan luka yang dalam membekas, seolah menutup kebahagiaan kami. Selanjutnya kami dibesarkan di sebuah panti asuhan. Awalnya kami bertiga mepunyai tujuan yang sama, yaitu balas dendam. Aku menyelidiki jenis senapan yang kulihat, Falcon OP 99 dan berdasarkan keterangan polisi, penembak itu adalah pimpinan komplotan tersebut yang bernama Marco van Eden. Singkat cerita, kami kemudian tumbuh dewasa. Aku terkejut saat mendengar bahwa Erick bertekad untuk melupakan balas dendamnya dan membuka kafe. Viona juga sama, ia memutuskan menjadi polisi lalu lintas. Aku cukup kecewa dan sadar, mulai saat itu aku harus siap untuk melangkah sendiri, dan selalu sendiri.
...
            Setelah melaui baku tembak yang cukup sengit, pasukan kami berhasil meringkus komplotan Marco. Tentu saja, itu karna aku menembaki anggota komplotan tersebut satu per satu sambil tersenyum puas dari jarak 100 meter di ketinggian dengan Falcon OP 99 yang telah kupersiapkan khusus untuk mereka. Sekarang tinggal memecahkan kepala Marco yang sedang terbaring lemas di bawah sana. Tiba-tiba seseorang menendang senapanku hingga terlontar. Aku tersentak dan menoleh, Viona?! Kenapa dia di sini?!
“Sudah cukup di situ, prajurit! Kita tidak diperkenankan membunuh jika tidak tidak terpaksa!” Seru Komandan Frank yang muncul dari belakang Viona.
“Ren! Padahal dulu kau anak yang begitu riang dan pemaaf, tapi lihat dirimu sekarang! Kau seperti iblis! Apa kau belum sadar juga bahwa balas dendam tidak akan membuatmu merasa lebih baik dan hanya akan menambah luka?!” Bentak Viona sambil berkaca-kaca.
“Kenapa kau ikut campur? Kita sudah tidak ada urusan, Vio! Aku tidak seperti kau dan Erick yang pengecut dan lemah!” Seruku marah.
“Kau bilang kami lemah? Kau lah yang lemah! Dendam dan sakit hati berhasil menguasaimu dan mengubahmu jadi iblis. Kau ingin menghabisi Marco dengan cara dan alat yang sama, makanya kau berusaha keras menjadi sniper. Hidupmu hanya dipenuhi hasrat untuk membalas dendam dan kau tak pernah mendapat kebahagiaan. Lihat kami! Kami cukup kuat untuk menghapus semua rasa sakit dan dendam, dan sekarang kami dapat hidup bahagia dan tenang. Dan kau menembaki orang lain sambil tersenyum dan mendapat kepuasan setelahnya, hanya iblis yang bisa begitu! Kau sama saja seperti mereka!" 
Aku terdiam seperti orang bodoh. Selama ini aku tak pernah melihat Viona seperti ini.
"Aku ikut campur karena peduli padamu! Selama ini aku selalu mencari cara untuk menemuimu, tapi Erick melarangku karena dia bilang kau berbahaya. Erick berjanji padaku untuk menghentikanmu, dan sepertinya dia gagal. Kemudian dia memberitahuku tentang penyerbuan ini." Kemudian Viona hanya terduduk lemas sambil menangis. Aku menghela napas.
“Vio, aku seperti payung hitam yang hanya digunakan pada saat upacara kematian, seperti itulah kehidupanku sekarang, hanya akan menembak saat kematian seseorang dibutuhkan. Jadi hidupku tak berguna kalau aku tak menembak.”
“Kau salah besar prajurit!" Sela Komandan Frank, "tidak ada payung hitam di sini. Yang ada hanya  peluru perak yang terlalu berharga untuk ditembakkan kepada sesuatu yang sepele. Kau bagiku adalah Sang Peluru Perak. Jadi jangan nodai kemurnian perak tersebut, Ren!”
Kali ini aku seperti tertohok. Yah, setidaknya aku masih punya kesempatan untuk menjalani hidupku dengan pemikiran lain. Hidup sebagai peluru perak yang berkilau dan berharga.

Komentar